Aktivitas Kewirausahawan Dalam Pandangan Agama Islam

Islam sebagai salah satu Agama lain di dunia memiliki cara-cara mendapatkan laba dari suatu usaha yang baik. Islam seperti agama-agama lainya juga berusaha mengajarkan supaya antara konsumen dan produsen sama-sama diuntungkan.

Kendati konsep ini tidak jauh dari teologi Kekristenan dan Taosisme. Islam agak memberikan sentuhan yang berbeda dalam sistem kewirausahaanya.
Aktivitas Kewirausahawan Dalam Pandangan Agama Islam

Konsep Islam Tentang Kewirausahaan

Islam memang tidak memberikan penjelasan secara eksplisit terkait konsep tentang kewirausahaan (enterpreneurship) ini, namun diantara keduanya mempunyai kaitan yang cukup erat memiliki roh atau jiwa yang berdekatan, kendatipun bahasa teknis yang digunakan agak berbeda.

Dalam Islam digunakan istilah kerja keras, kemandirian (biyadihi), dan tidak cengeng. Dalam konsep kewirausahaan modern ini kemudian dikenalah sebagai kegiatan ekonomi yang harus menggunakan penalaran tinggi dalam suatu wirausaha.

Gampangnya, berwirausaha harus memerhatikan keuletan dalam berwirausaha gimana. Semakin ulet berwirausahanya, maka aktivitas berwirausaha orang tersebut akan semakin berhasil pula.

Dalam sejarah pencapaian wirausaha sejak Zaman Revolusi Industri, bekerja keras merupakan esensi utama dari aktivitas kewirausahaan. Prinsip kerja keras sebagaimana yang dituturkan oleh Wafiduddin adalah suatu langkah nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan, tetapi harus melalui proses yang penuh dengan tantangan (risiko). Dengan kata lain, orang yang berani melewati risiko akan memperoleh peluang rezeki yang besarnya bukan main.

Sejak kemunculan agama-agama di dunia seperti agama Kristen, Hindu, dan Islam dimulai dari aktivitas perdagangan. Pada agama Islam misalnya, dalam sejarahnya Nabi Muhammad, dan beberapa masyarakat agama kala itu kebanyakan banyak yang berprofesi sebagai pedagang. Mereka juga adalah para enterpreneur handal yang mampu mengoperasikan usahanya dengan sangat baik.

Dari aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh nabi dan sebagian sahabatnya. Telah berhasil mengubah pandangan dunia bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada jabatan tinggi, atau uang yang banyak. Melainkan pada bidang apa yang ia geluti.

Oleh karena itu, banyak agama-agama di dunia yang mengajarkan umatnya untuk mencari penghasilan yang layak. Salah satunya yakni dengan cara berdagang.

Keberadaan agama-agama di Indonesia pada mulanya juga dibawakan oleh para pedagang. Disamping menyebarkan ajaran suatu agama. Para pedagang juga mewariskan keahlian berdagang khususnya kepada masyarakat pesisir.

Di wilayah pantura misalnya, sebagian masyarakatnya memiliki basis keagamaan yang kuat, kegiatan pengajian berbisnis sudah menjadi satu istilah yang sangat akrab dan menyatu sehingga muncul sifat yang sangat terkenal jigang (ngaji dagang).

Sejarah juga mencatat sejumlah tokoh Islam terkenal yang juga sebagai pengusaha tangguh itu ada Abdul Ghani Azis, Agus Dasaad, Djohan Soetan, dan juga ada Rahman Tamin. Beberapa tokoh agama dari orang-orang itu semuanya sukses dalam berwirausaha. Mereka berhasil menjalankan roda enterprenership yang brilian.

Bila ditinjau dari asal katanya, enterprenership merupakan istilah bahasa Prancis yang memiliki arti between ta ker” atau “go between”. Contoh yang sering digunakan untuk menggambarkan pengertian “go between” atau “perantara” ini adalah pada saat Marcopolo yang mencoba merintis jalur pelayanan dagang timur jauh.

Untuk melakukan perjalanan dagang tersebut, Marcopolo yang mencoba merintis jalur pelayanan dagang ke timur jauh untuk melakukan perjalanan dagang tersebut. Ketika itu, Marcopolo tidak menjual barangnya sendiri. Dia hanya membawa barang seorang pengusaha tersebut.

Dalam kontrak ini dinyatakan bahwa si pengusaha tersebut memberikan pinjaman kepada Marcopolo. Dari penjualan barang tersebut, Marcopolo mendapat Bagian 25%, termasuk asuransi, adapun pengusaha memperoleh keuntungan lebih 75%.

Segala macam risiko dan perdagangan tersebut ditanggung oleh pedagang, dalam hal uni Marcopolo. Jadi pada masa itu wiraswasta digambarkan sebagai usaha, dalam hal contoh ini perdagangan, yang menggunakan modal q lain, dan memperoleh bagian lebih kecil dari usaha tersebut.

Disini segala risiko usaha tersebut menjadi tanggung jawab seorang wiraswastawan. Pemilik modal tidak menanggung risiko apa pun.

Jika kita ikuti perkembangan makna pengertian enterpreneur, memang mengalami perubahan. Namun sampai saat ini, pendapat Josep Schumpeter pada 1912 masih diikuti banyak kalangan, karena lebih luas.

Menurut Schumpeter, seorang enterpreneur tidak selalu seorang pedagang (businesman) atau seorang manajer, ia adalah orang unik yang berpembawaan pengambil risiko, dan yang memperkenalkan produk-produk inovatif dan teknologi baru ke dalam perekonomian.

Integritas Pendidikan Kewirausahaan Dalam Islam


Keberhasilan seorang enterpreneur dalam Islam bersifat independen. Artinya Keunggulannya berpusat pada integritas pribadinya, buka dari luar dirinya.

Hal ini selain menimbulkan keandalan menghadapi tantangan, juga merupakan garansi tidak terjebak dalam praktik-praktik negatif dan bertentangan dengan peraturan, baik peraturan agama ataupun peraturan teknis negara tentang usaha. Integritas enterpreneur Muslim tersebut terlihat dalam sifat-sifatnya. Antara lain sebagai berikut.

Meningkatkan Ketrampilan


Selalu berusaha meningkatkan ilmu dan ketrampilan merupakan dua pilar bagi pelaksanaan suatu usaha. Oleh karenanya, mengatur usaha berdasarkan ilmu dan ketrampilan di atas landasan iman dan ketakwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan seorang enterpreneur.

Jujur


Kejuruan merupakan salah satu kaca kunci dalam kesuksesan seorang enterpreneur. Sebab sauatu usaha tidak akan berkembang sendiri tanpa ada kaitan dengan orang lain.

Sementara kesuksesan dan kelanggengan hubungan dengan orang lain atau pihak lain, sangat ditentukan oleh kejujuran kedua belah pihak. Jadi kejujuran sangat penting sekali agar antara konsumen dan produsen bisa sama-sama membangun kepercayaan.

Berdagang Buat Cari Untung


Perkerjaan berdagang adalah sebagian dari pekerjaan bisnis yang sebagian besar untuk mencari laba sehingga sering sekali untuk mencapainya dilakukan hal-hal yang tidak baik. Padahal ini sanggat dilarang dalam banyak korpus keagamaan, termasuk dalam Islam.

Jadi etika berdagang dalam mengambil keuntungan harus logis. Keuntungan yang terlalu banyak kurang baik, hal ini lantaran bisa mereduksi nilai branding sebuah brand dalam berapa tempo ke depan jika brand yang diusung tidak lagi dapat bersaing.

Berdagang Adalah Hobi


Konsep berdagang adalah hobi banyak dianut dari filosofi pedagang asal Tiongkok. Mereka menekuni kegiatan berdagang ini dengan ini sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai terobosan.

Yaitu dengan open display (melakukan pajangan di halaman terbuka untuk menarik minat orang. Windows display ( melakukan pajangan di depan toko), interior display ( pajangan tang disusun dalam toko) dan close display ( pajangan khusus barang) barang berharga agar tidak dicuri orang yang jahat.

Perintah Kerja Keras


Kemauan yang keras dapat menggerakkan motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Orang akan berhasil apabila ia mau bekerja keras, tahan menderita, dan mampu berjuang untuk memperbaiki nasibnya.

Menurut Murphy dan Peck, untuk mencapai sukses dalam karier seseorang, maka ia harus memulianya dengan kerja keras. Dari kerja keras itu kemudian diikuti dengan tujuan bersama orang lain, penampilan yang baik, keyakinan diri, membuat keputusan, pendidikan, dorongan ambisi, dan tentu saja pintar dalam berkomunikasi.

Jadi intinya dalam aktivitas berwirausaha itu harus ada inisiatif, motivasi, dan tentu saja kreativitas. Unsur-unsur tersebut terdapat dalam semua agama.

Belum ada Komentar untuk "Aktivitas Kewirausahawan Dalam Pandangan Agama Islam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel